Kandangnya Danar Si Sapi: puisi

Kandangnya Danar Si Sapi

Living with my friends, my cell phones, my tamagotchi, and my stupidity.


Aku benci hujan.
Sungguh, aku benci ia, meski sesaat lalu ia membantu mengaburkan tangisku.
Aku benci, karena ia selalu saja terburu-buru menjatuhkan dirinya di atas kepalaku.
Ia tak pernah bisa setenang dan seindah lembayung senja.
Oh, berlebihankah jika kemudian rasa rinduku mengharap lembayung itu terlukis kembali di malam ini?
Aku rindu jingganya, aku rindu merasakan diriku tenggelam di dalamnya.




Ditulis di sebuah malam yang sedang hujan dengan lebatnya di Bogor

Cinta kita diawali dengan hujan,
Sembilan bulan lalu,
Di bawah payung biru itu,
Di jalan itu,
Pertama kalinya ku merangkulmu.
Dan hujan selalu mengingatkanku akan memori itu..

Dan cinta itu juga diakhiri dengan hujan,
Di bawah payung yang sama,
Di jalan yang sama.
Dan hujan juga selalu mengingatkanku akan memori itu..

Tiap rintik hujan selalu mengingatkanku pada dirimu,
Dan aku benci hujan,
Karena aku benci mengenangmu,
Karena mengenangmu adalah menyakiti diriku..



Sambut aku di depan rumahmu,
Dengan senyum itu,
Dengan jaket dan jeans itu,
Duduk di beranda itu,
Dengan harap dari hatimu, dan dengan segala kerinduan itu,

Sambut aku,
Yang datang sendiri membawa cinta,
Dengan setangkai mawar di tangan kananku,
Dan sekotak cokelat di tangan kiriku,
Agar tetap kau tersenyum
Dan tetap kau jadi yang termanis,

Maka kan kubawa kau ke bulan,
Tuk tunjukkan bahwa ia tak begitu indah,
Lalu kubawa kau pada bintang,
Tuk tunjukkan bahwa ia tak begitu bersinar,
Hingga kau sadar bahwa dirimulah yang terindah,
Dan hatimu yang paling bersinar,

Dan malam ini,
Mari kita nikmati cinta,
Dan kita menari,
Menyanyi,
Sebari genggam erat tangan kita,
Lalu kita nikmati semua,
Hingga kita terlalu lelah tuk terjaga,
Dan kau sandarkan kepalamu di bahuku,
Dan terlelap sembari tetap menggenggam erat taganku,

Dan kita benar-benar telah menikmati cinta,
Yang kau bilang begitu indah,
Yang kau bilang itu anugerah,

Tapi sungguh,
Semoga kau tahu,
Tanpamu,
Cinta takkan pernah bisa seperti itu.

Bunda,
Malam memang begitu dingin,
Dan malam begitu sunyi,
Hingga ia membuatmu merasa sepi.
Dan membuatmu merindu
Akan canda anak-anakmu,
Yang dulu berlarian,
Bercanda hingga bertengkar,
Dan membuat gaduh,
Lalu membuatmu beranjak untuk memarahi mereka,
Dan menjewer kuping mereka.
Tapi memang begitulah anak-anak,
Mereka memang begitu nakal.
Tapi tidakkah kau sadari,
Bahwa justru kenakalan itulah yang selama ini kau rindukan?

Tapi jangan sedih bunda,
Karena anakmu berjanji akan datang esok pagi,
Dengan istrinya,
Yang cantik,
Penurut,
Sabar, dan baik budinya.
Juga anak-anak mereka, ia pun turut membawanya.
Anak-anak kecil yang lucu,
Yang memanggilmu nenek,
Dan berlarian untuk mencium tanganmu,
Mencium pipimu,
Dahimu,
Lalu mereka tertawa melihat keriputmu.
Dan kau pun ikut tertawa,
Lalu mencium mereka,
Memeluk mereka satu per satu,
Lalu mereka berlarian mengitarimu,
Menarik-narik bajumu,
Lalu berlarian di rumahmu.
Dan memang begitulah anak-anak,
Mereka begitu riang.

Kemudian anak lelakimu,
Jagoanmu,
Yang gagah,
Yang kini telah bahagia dengan hidup mandirinya,
Menghampirimu,
Lalu mencium tangan kananmu,
Dan kau elus belakang kepalanya,
Dengan penuh kasih sayang.
Persis seperti dulu,
Saat ia pulang dari sekolahnya,
Dan membawakanmu kertas ujiannya,
Yang bertuliskan 40 di kanan atasnya,
Yang membuatmu kecewa,
Tapi tetap kau menyayanginya,
Dan kau mengelus belakang kepalanya,
Dengan senyum,
Karena sebodoh apapun ia,
Ia tetap jagoanmu.

Lalu mereka mengajakmu pergi,
Untuk sekedar berjalan-jalan dengan mobil mereka,
Sebuah sedan hitam yang mewah,
Yang mereka beli dua bulan lalu,
Yang mereka beli,
Karena mereka memang telah mampu untuk itu.
Dan kau teringat kembali,
Bagaimana ia,
Anak lelakimu itu,
Jagoanmu,
Dulu berjanji untuk membahagiakanmu,
Membalas semua kasih sayangmu,
Meski ia sendiri pun tahu,
Bahwa tak mungkin ia melakukannya,
Karena terlampau besar kasih sayangmu untuknya,
Yang lebih jauh daripada sekedar sepanjang jalan,
Yang jauh lebih luas dari langit malam,
Dan jauh melebihi kasih sayang sang surya yang menyinari dunia.

Dan di malam ini,
Di malam yang sunyi dan sepi ini,
Kau duduk di sofa di ruang tengah,
Menitikkan air mata,
Karena kau begitu bahagia,
Dan merindu,
Sembari memegang sepucuk surat ini di tanganmu,
Surat yang sepuluh tahun lalu dikirimkan oleh anak lelakimu,
Jagoanmu,
Yang sangat merindukanmu,
Yang karena kuliahnya
Ia tak sempat menemuimu,
Sekedar untuk mencium tanganmu,
Mencium kedua pipimu,
Sembari mengucapkan terima kasih,
Mengatakan betapa ia bersyukur memilikimu,
Dan sungguh ia menyayangimu..



Bogor, 22 Desember 2008
Danar Setya Permana